Kisah sukses trader forex indonesia theo


Historia sukcesu Rupiah terpuruk, perekonomian gonjang-ganjing, dan negara di ambang kebangkrutan. Ekonom bersuara, tak ketinggalan pula para anggota DPR. Pengamat baru bermunculan. Makin bingunglah orang. Uraian siapakah yang jadi pegangan Tak ada yang bisa memberikan gambaran soal pasar ung z lebih jelas selain para pemain Forex (Valas), kata Theo Francisco Toemion (42), pengamat pasar uang sekaligus pemain Forex (Valas), meski kini lebih banyak membagi pengetahuan soal dunia yang telah belasan tahun ditekuninya itu kepada orang lain. Ada perbedaan antara pandangan para pakar z Theo F. Thoemion sehubungan z krisis ekonomi yang memburuk sejak czartal terakhir tahun lalu. Pihak pertama lebih melihat krisis berpangkal pada lemahnya sistem perbankan, kebocan anggaran, buruknya pengawasan, monopoli, kolusi, korupsi, nepotisme, dan ekonomi białą tinggi. Sedangkan Theo lebih melihat ulah spekulan di pasar uang sebagai sebab paling dominan. Sisi-sisi negatif penyebab keroposnya fondasi ekonomi itulah yang menyebabkan krisis tak segera bisa diatasi. Kalau Korea, Tajlandia, Filipiny, Singapura, dan Malezja bisa pulih dalam hitungan bulan, negara kita jauh lebih lama. Sebagai pelaku pasar Forex (Valas), Theo tahu betul, tanda-tanda bencana telah muncul sejak lama. Semuanya adalah permainan para fundusz zarządzający atau pemain pasar Forex (Valas), yang diwarnai keinginan dla menguji ketangguhan otoritas moneter suatu negara. Ia tahu bagaimana pedagang besar Forex (Valas) - yang acap disebut spekulan - semacam George Soros memainkan peran dalam Yendaka, melambungnya nilai tukar Yen terhadap AS, pada 1994. Ia juga mencatat, permainan para spekulan Eropa memaksa pembahasan mata uang tunggal Eropa (Euromoney ) lebih diintensifkan pada 1996. Selewat masa itu, para spekulan memang menurunkan aktivitas. Tapi lewat media massa Theo memperingatkan, Hati-hati, bukan mustahil mereka akan mengalihkan perhatian ke Azja, begitu antara lain tulisnya saat itu. Mereka menunggu kesempatan bermain mata uang menarik, egzotyczne waluty seperti Wygrana, Bath, Peso, Ringgit, atau Rupia. Jangan lupa, Indonezja negara kaya. Karena itulah mereka membidik kawasan ini, bukan ke Afrika, misalnya. Betapa tidak. Jeśli nie masz ochoty na randkę, sprawdź, czy nie ma nic złego w tym, co powiedziałeś. 7tahun, itu tak punya batasan berarti bagi lalu-lintas devisa. Otoritas moneternya juga belum teruji. Kalau dalam persaingan di Amerika, Eropa, dan Jepang para spekulan sering kalah, siapa tahu di kawasan ini. Maka bermainlah mereka. Pertengahan tahun lalu, saat pemerintah memperlebar pita intervensi, mereka menangkap sinyal tantangan itu, dan terpacu gairah to bermain z rupii. Ketika Oktober 1997 duet Soedradjat Djiwandono - Marie Muhammad memutuskan dla melepas ambang intervensi, mereka pun mendobrak. Rupanya, keputusan historis do membiarkan Rupiah mengambang bebas itu tak didukung kondisi yang cukup. Nilai tukar dikuasai dan dimainkan, bahkan dalam seminggu bisa terdepresiasi sampai 50. Utang membengkak, harga barang melonjak, produksi mandek, banyak perusahaan bangkrut. Inflasi interubun, dan perekonomian nyaris ambruk. Tak jak w przypadku, fondasi ekonomi kita demikian keropos. boleh ada berita buruk. Ada 4 faktor yang menurut Theo bisa jadi penentu naik turunnya kurs: fondasi ekonomi makro, cartagrafik berdasarkan rumus, faktor teknis-psikologis, dan ulah para spekulan. Soal fondasi ekonomi, menurut Theo, pasar telah mendapat bukti rentannya perekonomian kita. Carta atau grafik pun sudah dibuat saat kita menempuh rezim devisa terkontrol misalnya mematok depresiasi tahunan 3 - 4. Sedangkan faktor psikologis sangat berhubungan den ulah spekulan, apa lagi dalam rezim devisa bebas. Sekari pasar memperoleh bukti mata uang suatu negara bisa didikte, mereka mendikte terus. Pendiktean harga, yang terjadi setelah ada dorongan psikologis, berawal dari berita-berita politik yang berpotensi dimainkan. Theo menunjuk contoh, seluruh dunia tahu Indonezja pra-11 Maret 1998 menghadapi suksesi. Maka berita tentang Presiden Soeharto dan situasi sosial politik menjadi bahan permainan spekulan. Keadaan sakit, yang dalam bahasa Inggris bisa dirumuskan dalam beberapa kata, mulai dari Jest chory, jest chory, sampai Jest poważnie chory, mengakibatkan beraneka nilai kurs. Memang benar. Menurut catatan Theo, grafik przesłuchań itu berlangsung sejak banku wysłany ketahuan tak punya nyali sehingga menyebabkan Rupiah turun dari Rp 3.000, - ke Rp 3.800, - terhadap AS. Angka turun lagi ke Rp 4.400, - karena Pak Harto istirahat. Kemudian menjadi Rp 4.800, - karena imbas krisis Korea, turun ke Rp 5.600, - karena Pak Harto batal ke Malezja, dan dari Rp 6.200, - ke Rp 9.000, - karena pencalonan B. J. Habibie sebagai wakil presiden. Kurs membaik setelah penandatanganan nota kesepakatan z IMF 15 Januari, namun turun lagi setelah terjadi beberapa kerusuhan dan demonstrasi. Kenyataan itu membuktikan, dalam rezim devisa bebas segala berita dan peristiwa baik menjadi syarat utama. Dalam berbagai kesempatan Theo mengingatkan, membiarkan Rupiah mengambang bebas sam dengan bunuh diri tanpa dibarengi perbaikan segala sektor yang akhirnya melahirkan berita buruk. Percuma ada janji segala macam reformasi, penghapusan monopoli dan oligopoli, tetapi tak ada wujudnya. Dapat dimengerti, naik-turunnya nilai Rupia tak lagi ditentukan oleh hukum ekonomi, keseimbangan antara penawaran i permintaan. Tak jak teori yang bisa menjelaskan hal ini, kata Theo. Saat masyarakat makin tahu persoalan, omongan para ekonom sering diabaikan. Pemain seperti saya yang diperhatikan Lantas, berapa kurs AS yang wajar Ambil nilai terakhir sebelum krisis Rp 2,400, -. Ditambah 80-lah, sekitar Rp 4,320, -. Penjelasannya, dalam 10 tahun terakhir perbedaan suku bunga antara AS dan Rupiah sekitar 10. Suku bunga AS 5 dan suku bunga Rupia 15. Seliskihnia 10, dan dalam 10 tahun menjadi 100. Sementara depresiasi per tahun, katakanlah 4. Jadi dalam 10 tahun menjadi 40 Nah, selisih antara perbedaan suku bunga dan depresiasi dalam 10 tahun, 100 - 40 60. Takaaa dipatok 60 beri kemungkinan sampai 80 do ditambahkan pada kurs terakhir. Jadi 180 dari Rp 2,400, - Rp 4,320. Kliknij, aby zobaczyć, co to jest dan hukum ekonomi tak, jak to zrobić. Dunia perdagangan Forex (Valas) dewasa ini bagaikan dikontrol para fundusz zarządzający besar yang disebut big boys. Menurut Theo, jumlah, wielcy chłopcy, yang tercatat saat ini 2.500 orang. Akumulasi modal mereka sekitar AS 1.300 miliar, dan dalam keadaan terpaksa bisa mendapat pinjaman hingga 10 kali lipatnya. Jumlah ini sungguh raksasa, sebab cadangan devisa negara-negara kaya yang tergabung dalam OECD pun kalau digabung tak lebih dari AS 700 miliar. Maka bisa dibayangkan betapa konyolnya gagasan dla melawan spekulan z cadangan devisa hanya AS 20 miliar, misalnya. Dari 2.500 dużych chłopców itu terbawa serta ribuan orang lang sebagai mitra atau pelaksana. Sudah menjadi kebiasaan, pengambilan posisi para pelaksana ditentukan oleh tokoh besar. Jika Soros, misalnya, mengambil posisi Rp 9.000, - za 1 AS, yang lain pasti mengikuti. Jika esoknya Soros menjual z harga Rp 9.500, -, yang lain pun pasti ikut. Semua serempak, dan begitulah nilai mata uang dimainkan. Kalau mata uang suatu negara dipatok pada nilai tetap, spekulan memang tidak lagi bisa main. Hanya saja, menurut Theo, konsekuensinya ada dalam perekonomian negara yang bersangkutan. Bagi Theo, reformasi ekonomi apa pun yang dipilih pemerintah tak penting benar, asal bisa mengatasi segenap konsekuensinya. Misalnya, pelepasan batas intervensi mensyaratkan perbaikan ekonomi suma, sedangkan pematokan nilai uang mensyaratkan cadangan devisa yang cukup dan perbankan yang sehat. Tak bisa pula dilepaskan faktor keberanian bank sentral. Kepada siapa pun yang mau memaksakan kehendak, bank sentral tak boleh setengah hati. Kalau perlu habis-habisan berintervensi. Jika ini terus berlanjut, dan dunia membuktikan konsistensi kita, pasar pun akan segan, kata Theo. Betapa pun kuat dan nafsunya spekulan, kalau menghadapi otoritas moneter yang teguh dan konsisten, mereka juga berpikir untuk main-main. Seperti pernah dialami Hongkong, para spekulan menghentikan serbuan karena tahu Inggris berada di belakangnya. Tak seorang pun ragu ketangguhan sistem keuangan Inggris. Kasus Indonesia, menurut Theo, adalah bukti kesekian dari pelecehan para big boy terhadap otoritas moneter. Permainan selisih kurs antara Rupiah - AS jauh lebh mudah ketimbang permainan selisih kurs Yen - AS atau Mark Jerman - AS yang didukung otoritas moneter sangat berwibawa, dan karenanya disebut hard currencies. Akibatnya sangat mudah diterka, bahkan oleh ibu-ibu rumah tangga, pihak yang acap disalahkan karena dikira ikut-ikutan berspekulasi. Masalahnya, menurut Theo, selain tuduhan itu tak benar karena jumlahnya tak seberapa dibandingan dengan aktivitas pasar uang, pemikiran para ibu sangat simpel. Jika dulu mudah menghitung depresiasi, 3 - 4 setahun, siapa sangka tiba-tiba depresiasi bisa 20 dalam sehari Kalau punya simpanan Rupiah dan berbunga, katakanlah 40, pada akhir tahun tak akan mencapai jumlah jika didolarkan. Pada akhirnya memang tak ada pihak yang bisa disalahkan kalau terdżadi mang uang asing, karena negara menganut rezim devisa bebas. Di Pasar uang, komoditas yang diperdagangkan tak cuma valuta asing. Menurut Theo, meski pemerintah mematok kurs Rupia, tak berarti kegiatan berhenti. Ada pelbagai macam surat berharga dan surat-surat komersial yang diperdagangkan. Memang, belakangan problem ekonomi negara kita tak cuma berasal dari daly negeri, melainkan dari luar negeri. Lembaga pemeringkat semacam Standards Poor, sekalipun banyak dicibir, pengaruhnya terhadap pasar sangat besar. Peringkat buruk yang disandangkan kepada Indonezja, Maret lalu, adalah klimaks dari kesulitan external. Złóż pembayaran berjangka seperti akredytywa (LC) tak diterima, inwestor asing pun tak serta merta datang buat menanamkan modal. Zauważ, że jest to pendeli kertas berharga dari Indonesia tak, że lagi dianggap berinvestasi, melainkan dicurigai mau berspekulasi, kata Theo. Kalaupun saya, misalnya, menempatkan diri sebagai broker for mendatangkan uang dari inwestor asing, sekarang ini sangat sulit. Ketidakpercayaan demikian kuat, perlu waktu lama untuk memulihkannya. Poświęć dun memu sulit dilawan. Kalau kekayaan big boys sangat besar, itu konsekuensi dari hakikat pasar uang. Istilahnya to biznes na śnieżki, bisnis yang menggelinding bagai bola salju. Orang harus jadi besar, by przetrwać. Bisnis pasar uang, menouut Theo, menganut filosofi dasar: bukan soal berapa jumlah uang yang akan Anda peroleh, melainkan berapa jumlah uang yang siap Anda habiskan. Gambarannya, jika seseorang kerja keras sepanjang tahun hingga memperoleh uang Rp 1 miliar, akan sangat keliru kalau menggunakannya dla głównego rynku walutowego. Tetapi jika seseorang mendapat lotere Rp 1 miliar, yang Rp 800 juta za beli rumahtanah, Rp 100 juta za beli kendaraan, dan sisanya na głównym rynku forex, silakan saja. Maka, kalau ada seorang funduszu zarządzającego siap menghabiskan AS 5 miliar di pasar forex, tak terbayang berapa besar kekayaannya Bisnis di pasar uang tak sama judi. Kata Theo, jika judi nasib pelaku 100 tergantung pada kartu, Di pasar uang ada hal-hal yang bisa diperhitungkan dan dicarikan peluang. Menurut Theo, ada 7 tingkat yang harus dicapai od betul-betul memahami bisnis ini. Wybierz wartość 4, aby zobaczyć, czy nie ma miejsca, czy nie, czy też nie, czy też nie, czy nie, czy nie, czy nie, czy nie, czy nie, nie, czy nie, czy nie, nie informuj o tym, czy nie ma problemu, czy nie ma palącego abstrakcji i czy nie jest zbyt silny. Misalnya, semua faktor telah terpenuhi, prediksi sudah dilakukan, tapi tak ada action. Ketika faktanya sama z yang sebelumnya telah diperhitungkan, muncul rasa sesal kenapa tidak begini kenapa tidak begitu. Itulah yang saya maksud tingkat ketujuh. Sekalipun menggiurkan, bisnis di pasar uang penuh kekecewaan. Karena apa To o pieniądzach. Orang hanya tergiur melihat angka. Mereka ramai-ramai bermain, sementara tatanan dan hukumnya tak mudah dipelajari. Lagi pula dunia itu sudah dikuasai mafia, big boys, dalam cara kerja yang terintegrasi. Apa kalendarza na klawiaturę, mafia-lah yang memperoleh keuntungan Menurut Theo, setelah perang dingin reda dan komunisme runtuh, tak ada lagi kekuatan yang punya daya penghancur sangat dahsyat selain uang. Ketika uang menjadi komoditas, dampaknya global. Bencana keuangan di suatu negara segera bisa merembet ke negara lain. Siapa sekarang orang kai di kawasan krisis yang merasa terjamin hingga 7 keturunan Tak terbayangkan, uang bisa berlipat kali atau hancur sama sekali hanya dalam hitungan hari. Jika ditarik ke dimensi filosofis, kata Theo, krisis ekonomi adalah akibat ulah manusia yang menganggap uang sebagai ideologi. Fakta menunjukkan, miliaran AS telah menguap entah ke mana. Lembaga keuangan banyak yang rugi, Soros rugi, demikian pula para big boy. Tak jelas ke mana uang-uang itu pergi. Inilah tanda-tanda zaman, kata Theo. Tuhan kasih antibiotik to mereka yang terlalu menghamba pada uang. Orang kaya pusing, konglomerat pusing. Rasain. Terjunnya Theo di kancah pasar uang agaknya tak terduga sebelumnya. Pria kelahiran Manado, 21 września 1956 r., Ini semula berangan-angan jadi pastor, tapi dikeluarkan saat naik ke kelas 3 Seminari Menengah Tomohon tahun 1974. Anak ke-4 dari 7 bersaudara ini sama saja dengan ayah, paman, para sepupu, dan saudaranya, yang pernah masuk ke seminari namun gagal jadi pastor. Saya menanggung harapan besar. Nilai dan aktivitas sekolah bagus. Maka ibu terguncang dan jatuh sakit ketika saya keluar, kenangnya. Pastor pembimbing waktu itu mengatakan, m. in. akan lebih sukses hidup di luar biara. Kendati sedikit menyesalkan keputusan itu, ia berbalik haluan. Ia melamar ke Bank Indonezja dan diterima di BI cabang Surabaya. Setelah 2 tahun bekerja, timbul keresahan di antara teman-temannya yang cuma berijazah SMA. Sebab od początku do początku, mereka tak mungkin bisa masuk jajaran staf. Nggak bakal pakai dasi dong seumur-umur, papa Theo mengenang. Nampaknya BI tanggap pada kegalauan itu dan mengadakan seleksi for promosi. Yang lolos akan disekolahkan sejajar denganis universitas. Dari BI Surabaya lulus 4 orang, salah satunya Theo. Sementara dari seluruh Indonesia terjaring 60 orang. Mereka dimasukkan ke Pendidikan Ahli Administrasi dan Keuangan Bank di Dżakarta, menjalani pendidikan maraton dari pukul 08.00 - 17.00 setiap hari z fasilitas penuh, selama 3 tahun. Gelarnya sejajar akuntan, tapi BI nggak kasih gelar, takut kami keluar. Sempat bekerja di bagian pengawasan BI selama setahun, ia kembali mengikuti seleksi intern guna ditempatkan di London. Dari 40 peserta hanya Theo yang lulus. Di London ia langsung jadi staf termuda pada umur 23 tahun. Kesempatan di sana ia gunakan dla mengikuti serangkaian pelatihan dan praktek. Belajar forex di Paris, Londyn, Amsterdam, dan Kopenhagen. Mempelajari bank sentral di Denmark dan Belanda, menggeluti cadangan emas di Swis, juga duduk dan bermain di banyak ruang transaksi forex. Waktu itu kepala dealing room Jakarta pindah, jadi saya disiapkan do menggantikannya. Saya sadar, dla dealera jadu, który jest przeznaczony do przewozu pandalet i dan cakrawala z duduk di pusat keuangan dunia. Przedstawiciel handlowy firmy BI sebenarnya bertujuan dla mengelola cadangan devisa sejumlah AS 6 miliar dengan menempatkannya di posisi yang tepat. Bukan dla memperdagangkannya. Maka di luar jam kerja, saya główny marża handlowa atas nama pribadi, bukan BI. Setelah 5 tahun bermukim di Inggris, Theo sebenarnya ingin pulang ke tanah air, tetapi pemerintah Inggris mengetahui reputasa dan memberi izin tinggal tetap. Ia bisa bekerja apa saja. Wah, percaya dirilah saya. Pekerjaan BI yang diidamkan banyak orang nggak terlalu menggiurkan lagi, kata Theo. Maka, ketika benar benar benar-benar pulang ke Indonezja ia sekaligus minta izin keluar dari BI za masuk ke London School of Economics (LSE). Maksudnya sebagai batu lonkana dla bekerja di Bank Dunia atau IMF. Tapi keasyikan bermain forex membuatnya malas bersekolah. Jiwa saya player, jadi saya tak jadi masuk LSE meskipun sudah diterima. Saya główne valas terus, dan ingin menikmati hasilnya. Saya ingin menikmati hidup bukan sebagai pegawai BI yang bertahun-tahun cuma bisa naik mobil sederhana. Główny handel marżą w Saat, pertengahan 1980-an, modal dengkul masih berlaku. Modalnya dipinjami, tapi kalau untung masuk kantung sendiri. Pokoknya main do meramaikan. Masa itu tak sulit mereguk untung lantaran pasar gampang diterka. Dolar turun searah. Tapi sejak 1987, peluang meraup keuntungan makin sulit. Selain pemain makin banyak, modal pun mulai diatur. Saat itulah Bank Duta terpuruk karena permainan valas. Soal kesempatan meraup untung memang tak ada yang lebih cepat daripada main valas. Saya masih ingat, hanya z mengangkat telepon dari vila di Puncak sambil main gaple i makan pisang goreng, bisa dapat AS 60.000 semalam. Telepon memang diibaratkan cangkulnya buat cari makan. Juga berbagai perangkat komunikasi. Zablokuj dla bertransaksi ke seluruh dunia, memantau pasar yang berjalan 24 jam sehari, juga melihat kerugian dan keuntungan uangnya. Tapi hidup saya tak habis di sana. Apa lagi saya harus membagi pengetahuan kepada banyak orang. Kalau menulis dan bikin analisis, saya tak main. Saya meramal dan menghitung, biar orang lang yang dapat keuntungan. Theo tak terikat pada suatu lembaga keuangan. Kalau mau main, ia sendiri yang menentukan. Sejak tahun lalu, iem mendirikan perusahaan jasa konsultasi pasar uang Prędkość Waluta. Bagi yang ingin tahu atau ingin główne valas boleh jadi pelanggan. Dengan membayar AS 100bulan, Theo pun memberi analisis dan panduan. Cita-cita saya membuat Prędkość Waluta seperti Bloomberg. Ia besar dan disegani, mekki awalnya juga dirintis di garasi, ia menunjuk garasi di rumahnya yang berhalaman luas di kawasan Lebak Bulus, Dżakarta Selatan. Ia mempekerjakan 4 orang yang, selain mengolah analisis, kierownik funduszu Juga Bertindak sebagai. Mereka kutas jago yang tak bisa dianggap remeh, karena lewat tangannya sering teriadi transaksi miliaran dolar, kata Theo bangga. Karena bekerja di rumah, Theo tak terikat pada aturan dan jadwal kerja yang pasti. Ia adalah pegawai bagi dirinya sendiri. Wybierz rozmiar i rozmiar, a następnie kliknij prawym przyciskiem myszy, wybierz język, a następnie kliknij prawym przyciskiem myszy. Theo menganggap, anak-anak lebih memerlukan kebersamaan ketimbang uang. Tak więc ia telah punya vila di Puncak, Jawa Barat, dan hotel di atas tanah 10 ha di Manado. Anak-anak pula yang menghadirkan cerita i bagi perjalanan hidup Theo. Saat masih di dalam kandungan, kecuali si bungsu Daniel (hampir 2 bulan), zwykły berada di tempat yang jauh dari rumah. Dari yang sulung tempatnya paling jauh, sampai si bungsu yang palący dekat. Namun akhirnya semua lahir di Jakarta. Menurut istrinya, Sandra Pingkan Adriana Lolong (38), si sulung Monika (12) berada di dalam kandungan saat mereka di New York. Barulah 2 bulan menjelang melahirkan, saya kembali ke Dżakarta, kata Sandra. Begitu pula Abi (9) yang dikandung saat mereka tinggal di London. Keisha (7) anak ketiga, dikandung di Singapura. Sedangkan Dorothea (5) dikandung sewaktu mereka di Manado. Barulah anak ke-5, Daniel, menghabiskan seluruh masa janin hingga lahir di Dżakarta. Jumlah anak sampai 5, bagi pasangan Theo dan Sandra juga cerita tersendiri. Theo memang dari keluarga besar, namun Sandra hanya 2 bersaudara. Setelah kelahiran Abi, keduanya ingin ber-KB. Tapi apa mau dikata, kebobolan terus. Selain mengalami beberapa kegagalan, saya pun pernah kehilangan spiral, kata Sandra. Akhirnya, setelah melahirkan Daniel, saya minta disteril. Buat pasangan ini, anak-anak adalah segalanya. Mereka yang terbiasa memanggil Papa Theo adalah rekan sepanjang hidup, sekaligus jadi rem manakala Theo terlalu keasyikan bermain uang. (G. Sujayanto A., Heru KustaraMayong S. Laksono) Ingin mencari uang di internet tanpa modal i menjadi bebas secara Finansial seperti kisah di atas. Silahkan klik di bawah dla mendaftar (bezpłatny) dan memulai Handel ForexPROFESI IDAMAN KARENA KEASYIKAN GŁÓWNY UANG Rupia terpuruk, perekonomian gonjang-ganjing, dan negara di ambang kebangkrutan. Ekonom bersuara, tak ketinggalan pula para anggota DPR. Pengamat baru bermunculan. Makin bingunglah orang. Uraian siapakah yang jadi pegangan Tak ada yang bisa memberikan gambaran soal pasar uang z lebih jelas selain para pemain valas, kata Theo Francisco Toemion (42), pengamat pasar uang sekaligus pemain valas, meski kini lebih banyak membagi pengetahuan soal dunia yang telah belasan tahun ditekuninya itu kepada orang lain. Ada perbedaan antara pandangan para pakar z Theo F. Thoemion sehubungan z krisis ekonomi yang memburuk sejak czartal terakhir tahun lalu. Pihak pertama lebih melihat krisis berpangkal pada lemahnya sistem perbankan, kebocan anggaran, buruknya pengawasan, monopoli, kolusi, korupsi, nepotisme, dan ekonomi białą tinggi. Sedangkan Theo lebih melihat ulah spekulan di pasar uang sebagai sebab paling dominan. Sisi-sisi negatif penyebab keroposnya fondasi ekonomi itulah yang menyebabkan krisis tak segera bisa diatasi. Kalau Korea, Tajlandia, Filipiny, Singapura, dan Malezja bisa pulih dalam hitungan bulan, negara kita jauh lebih lama. Sebagai pelaku pasar valas, Theo tahu betul, tanda-tanda bencana telah muncul sejak lama. Semuanya adalah permainan para zarządzający funduszem atau pemain pasar valas, yang diwarnai keinginan dla menguji ketangguhan otoritas moneter suatu negara. Ia tahu bagaimana pedagang besar valas - yang acap disebut spekulan - semacam George Soros memainkan peran dalam Yendaka, melambungnya nilai tukar Yen terhadap AS, pada 1994. Ia juga mencatat, permainan para spekulan Eropa memaksa pembahasan mata uang tunggal Eropa (Euromoney) lebih diintensifkan pada 1996. Selewat masa itu, para spekulan memang menurunkan aktivitas. Tapi lewat media massa Theo memperingatkan, Hati-hati, bukan mustahil mereka akan mengalihkan perhatian ke Azja, begitu antara lain tulisnya saat itu. Mereka menunggu kesempatan bermain mata uang menarik, egzotyczne waluty seperti Wygrana, Bath, Peso, Ringgit, atau Rupia. Jangan lupa, Indonezja negara kaya. Karena itulah mereka membidik kawasan ini, bukan ke Afrika, misalnya. Betapa tidak. Jeśli nie masz ochoty na randkę, sprawdź, czy nie ma nic złego w tym, co powiedziałeś. 7tahun, itu tak punya batasan berarti bagi lalu-lintas devisa. Otoritas moneternya juga belum teruji. Kalau dalam persaingan di Amerika, Eropa, dan Jepang para spekulan sering kalah, siapa tahu di kawasan ini. Maka bermainlah mereka. Pertengahan tahun lalu, saat pemerintah memperlebar pita intervensi, mereka menangkap sinyal tantangan itu, dan terpacu gairah to bermain z rupii. Ketika Oktober 1997 duet Soedradjat Djiwandono - Marie Muhammad memutuskan dla melepas ambang intervensi, mereka pun mendobrak. Rupanya, keputusan historis do membiarkan Rupiah mengambang bebas itu tak didukung kondisi yang cukup. Nilai tukar dikuasai dan dimainkan, bahkan dalam seminggu bisa terdepresiasi sampai 50. Utang membengkak, harga barang melonjak, produksi mandek, banyak perusahaan bangkrut. Inflasi interubun, dan perekonomian nyaris ambruk. Tak jak w przypadku, fondasi ekonomi kita demikian keropos. boleh ada berita buruk. Ada 4 faktor yang menurut Theo bisa jadi penentu naik turunnya kurs: fondasi ekonomi makro, cartagrafik berdasarkan rumus, faktor teknis-psikologis, dan ulah para spekulan. Soal fondasi ekonomi, menurut Theo, pasar telah mendapat bukti rentannya perekonomian kita. Carta atau grafik pun sudah dibuat saat kita menempuh rezim devisa terkontrol misalnya mematok depresiasi tahunan 3 - 4. Sedangkan faktor psikologis sangat berhubungan den ulah spekulan, apa lagi dalam rezim devisa bebas. Sekari pasar memperoleh bukti mata uang suatu negara bisa didikte, mereka mendikte terus. Pendiktean harga, yang terjadi setelah ada dorongan psikologis, berawal dari berita-berita politik yang berpotensi dimainkan. Theo menunjuk contoh, seluruh dunia tahu Indonezja pra-11 Maret 1998 menghadapi suksesi. Maka berita tentang Presiden Soeharto dan situasi sosial politik menjadi bahan permainan spekulan. Keadaan sakit, yang dalam bahasa Inggris bisa dirumuskan dalam beberapa kata, mulai dari Jest chory, jest chory, sampai Jest poważnie chory, mengakibatkan beraneka nilai kurs. Memang benar. Menurut catatan Theo, grafik przesłuchań itu berlangsung sejak banku wysłany ketahuan tak punya nyali sehingga menyebabkan Rupiah turun dari Rp 3.000, - ke Rp 3.800, - terhadap AS. Angka turun lagi ke Rp 4.400, - karena Pak Harto istirahat. Kemudian menjadi Rp 4.800, - karena imbas krisis Korea, turun ke Rp 5.600, - karena Pak Harto batal ke Malezja, dan dari Rp 6.200, - ke Rp 9.000, - karena pencalonan B. J. Habibie sebagai wakil presiden. Kurs membaik setelah penandatanganan nota kesepakatan z IMF 15 Januari, namun turun lagi setelah terjadi beberapa kerusuhan dan demonstrasi. Kenyataan itu membuktikan, dalam rezim devisa bebas segala berita dan peristiwa baik menjadi syarat utama. Dalam berbagai kesempatan Theo mengingatkan, membiarkan Rupiah mengambang bebas sam dengan bunuh diri tanpa dibarengi perbaikan segala sektor yang akhirnya melahirkan berita buruk. Percuma ada janji segala macam reformasi, penghapusan monopoli dan oligopoli, tetapi tak ada wujudnya. Dapat dimengerti, naik-turunnya nilai Rupia tak lagi ditentukan oleh hukum ekonomi, keseimbangan antara penawaran i permintaan. Tak jak teori yang bisa menjelaskan hal ini, kata Theo. Saat masyarakat makin tahu persoalan, omongan para ekonom sering diabaikan. Pemain seperti saya yang diperhatikan Lantas, berapa kurs AS yang wajar Ambil nilai terakhir sebelum krisis Rp 2,400, -. Ditambah 80-lah, sekitar Rp 4,320, -. Penjelasannya, dalam 10 tahun terakhir perbedaan suku bunga antara AS dan Rupiah sekitar 10. Suku bunga AS 5 dan suku bunga Rupia 15. Seliskihnia 10, dan dalam 10 tahun menjadi 100. Sementara depresiasi per tahun, katakanlah 4. Jadi dalam 10 tahun menjadi 40 Nah, selisih antara perbedaan, suku bunga dan depresiasi dalam 10 tahun, 100 - 40 60. Taka liczba to 60, a więcej to sampai 80 to ditambahkan pada kurs terakhir. Jadi 180 dari Rp 2,400, - Rp 4,320. Kliknij, aby zobaczyć, co to jest dan hukum ekonomi tak, jak to zrobić. Kalau kita konsisten, pasar akan respek Dunia perdagangan valas dewasa ini bagaikan dikontrol para fundusz manager besar yang disebut big boys. Menurut Theo, jumlah, wielcy chłopcy, yang tercatat saat ini 2.500 orang. Akumulasi modal mereka sekitar AS 1.300 miliar, dan dalam keadaan terpaksa bisa mendapat pinjaman hingga 10 kali lipatnya. Jumlah ini sungguh raksasa, sebab cadangan devisa negara-negara kaya yang tergabung dalam OECD pun kalau digabung tak lebih dari AS 700 miliar. Maka bisa dibayangkan betapa konyolnya gagasan dla melawan spekulan z cadangan devisa hanya AS 20 miliar, misalnya. Dari 2.500 dużych chłopców itu terbawa serta ribuan orang lang sebagai mitra atau pelaksana. Sudah menjadi kebiasaan, pengambilan posisi para pelaksana ditentukan oleh tokoh besar. Jika Soros, misalnya, mengambil posisi Rp 9.000, - za 1 AS, yang lain pasti mengikuti. Jika esoknya Soros menjual z harga Rp 9.500, -, yang lain pun pasti ikut. Semua serempak, dan begitulah nilai mata uang dimainkan. Kalau mata uang suatu negara dipatok pada nilai tetap, spekulan memang tidak lagi bisa main. Hanya saja, menurut Theo, konsekuensinya ada dalam perekonomian negara yang bersangkutan. Bagi Theo, reformasi ekonomi apa pun yang dipilih pemerintah tak penting benar, asal bisa mengatasi segenap konsekuensinya. Misalnya, pelepasan batas intervensi mensyaratkan perbaikan ekonomi suma, sedangkan pematokan nilai uang mensyaratkan cadangan devisa yang cukup dan perbankan yang sehat. Tak bisa pula dilepaskan faktor keberanian bank sentral. Kepada siapa pun yang mau memaksakan kehendak, bank sentral tak boleh setengah hati. Kalau perlu habis-habisan berintervensi. Jika ini terus berlanjut, dan dunia membuktikan konsistensi kita, pasar pun akan segan, kata Theo. Betapa pun kuat dan nafsunya spekulan, kalau menghadapi otoritas moneter yang teguh dan konsisten, mereka juga berpikir untuk main-main. Seperti pernah dialami Hongkong, para spekulan menghentikan serbuan karena tahu Inggris berada di belakangnya. Tak seorang pun ragu ketangguhan sistem keuangan Inggris. Kasus Indonesia, menurut Theo, adalah bukti kesekian dari pelecehan para big boy terhadap otoritas moneter. Permainan selisih kurs antara Rupiah - AS jauh lebh mudah ketimbang permainan selisih kurs Yen - AS atau Mark Jerman - AS yang didukung otoritas moneter sangat berwibawa, dan karenanya disebut hard currencies. Akibatnya sangat mudah diterka, bahkan oleh ibu-ibu rumah tangga, pihak yang acap disalahkan karena dikira ikut-ikutan berspekulasi. Masalahnya, menurut Theo, selain tuduhan itu tak benar karena jumlahnya tak seberapa dibandingan dengan aktivitas pasar uang, pemikiran para ibu sangat simpel. Jika dulu mudah menghitung depresiasi, 3 - 4 setahun, siapa sangka tiba-tiba depresiasi bisa 20 dalam sehari Kalau punya simpanan Rupiah dan berbunga, katakanlah 40, pada akhir tahun tak akan mencapai jumlah jika didolarkan. Pada akhirnya memang tak ada pihak yang bisa disalahkan kalau terdżadi mang uang asing, karena negara menganut rezim devisa bebas. Menggelinding seperti bola salju Di pasar uang, komoditas yang diperdagangkan tak cuma valuta asing. Menurut Theo, meski pemerintah mematok kurs Rupia, tak berarti kegiatan berhenti. Ada pelbagai macam surat berharga dan surat-surat komersial yang diperdagangkan. Memang, belakangan problem ekonomi negara kita tak cuma berasal dari daly negeri, melainkan dari luar negeri. Lembaga pemeringkat semacam Standards Poor, sekalipun banyak dicibir, pengaruhnya terhadap pasar sangat besar. Peringkat buruk yang disandangkan kepada Indonezja, Maret lalu, adalah klimaks dari kesulitan external. Złóż pembayaran berjangka seperti akredytywa (LC) tak diterima, inwestor asing pun tak serta merta datang buat menanamkan modal. Zauważ, że jest to pendeli kertas berharga dari Indonesia tak, że lagi dianggap berinvestasi, melainkan dicurigai mau berspekulasi, kata Theo. Kalaupun saya, misalnya, menempatkan diri sebagai broker for mendatangkan uang dari inwestor asing, sekarang ini sangat sulit. Ketidakpercayaan demikian kuat, perlu waktu lama untuk memulihkannya. Poświęć dun memu sulit dilawan. Kalau kekayaan big boys sangat besar, itu konsekuensi dari hakikat pasar uang. Istilahnya to biznes na śnieżki, bisnis yang menggelinding bagai bola salju. Orang harus jadi besar, by przetrwać. Bisnis pasar uang, menouut Theo, menganut filosofi dasar: bukan soal berapa jumlah uang yang akan Anda peroleh, melainkan berapa jumlah uang yang siap Anda habiskan. Gambarannya, jika seseorang kerja keras sepanjang tahun hingga memperoleh uang Rp 1 miliar, akan sangat keliru kalau menggunakannya untuk main valas. Tetapi jika seseorang mendapat lotere Rp 1 miliar, yang Rp 800 juta untuk beli rumahtanah, Rp 100 juta untuk beli kendaraan, dan sisanya untuk main valas, silakan saja. Maka, kalau ada seorang fund manager siap menghabiskan AS 5 miliar di pasar valas, tak terbayang berapa besar kekayaannya Bisnis di pasar uang tak sama dengan judi. Kata Theo, jika judi nasib pelaku 100 tergantung pada kartu, Di pasar uang ada hal-hal yang bisa diperhitungkan dan dicarikan peluang. Menurut Theo, ada 7 tingkat yang harus dicapai untuk betul-betul memahami bisnis ini. Selain 4 faktor penentu nilai mata uang yang sudah disebut tadi, ada beberapa hal lain seperti lobi atau hubungan, termasuk kemampuan berbahasa, faktor intelijen alias daya endus informasi, dan hal paling abstrak dan sulit, sehingga orang tak sanggup berpikir lagi. Misalnya, semua faktor telah terpenuhi, prediksi sudah dilakukan, tapi tak ada action. Ketika faktanya sama dengan yang sebelumnya telah diperhitungkan, muncul rasa sesal kenapa tidak begini kenapa tidak begitu. Itulah yang saya maksud tingkat ketujuh. Sekalipun menggiurkan, bisnis di pasar uang penuh kekecewaan. Karena apa Its about money. Orang hanya tergiur melihat angka. Mereka ramai-ramai bermain, sementara tatanan dan hukumnya tak mudah dipelajari. Lagi pula dunia itu sudah dikuasai mafia, big boys, dalam cara kerja yang terintegrasi. Apa pun permainan para pendatang, mafia-lah yang memperoleh keuntungan Menurut Theo, setelah perang dingin reda dan komunisme runtuh, tak ada lagi kekuatan yang punya daya penghancur sangat dahsyat selain uang. Ketika uang menjadi komoditas, dampaknya global. Bencana keuangan di suatu negara segera bisa merembet ke negara lain. Siapa sekarang orang kaya di kawasan krisis yang merasa terjamin hingga 7 keturunan Tak terbayangkan, uang bisa berlipat kali atau hancur sama sekali hanya dalam hitungan hari. Jika ditarik ke dimensi filosofis, kata Theo, krisis ekonomi adalah akibat ulah manusia yang menganggap uang sebagai ideologi. Fakta menunjukkan, miliaran AS telah menguap entah ke mana. Lembaga keuangan banyak yang rugi, Soros rugi, demikian pula para big boy. Tak jelas ke mana uang-uang itu pergi. Inilah tanda-tanda zaman, kata Theo. Tuhan kasih antibiotik untuk mereka yang terlalu menghamba pada uang. Orang kaya pusing, konglomerat pusing. Rasain. Main uang karena ingin menikmati hidup Terjunnya Theo di kancah pasar uang agaknya tak terduga sebelumnya. Pria kelahiran Manado, 21 September 1956, ini semula berangan-angan jadi pastor, tapi dikeluarkan saat naik ke kelas 3 Seminari Menengah Tomohon tahun 1974. Anak ke-4 dari 7 bersaudara ini sama saja dengan ayah, paman, para sepupu, dan saudaranya, yang pernah masuk ke seminari namun gagal jadi pastor. Saya menanggung harapan besar. Nilai dan aktivitas sekolah bagus. Maka ibu terguncang dan jatuh sakit ketika saya keluar, kenangnya. Pastor pembimbing waktu itu mengatakan, ia akan lebih sukses hidup di luar biara. Kendati sedikit menyesalkan keputusan itu, ia berbalik haluan. Ia melamar ke Bank Indonesia dan diterima di BI cabang Surabaya. Setelah 2 tahun bekerja, timbul keresahan di antara teman-temannya yang cuma berijazah SMA. Sebab dengan begitu, mereka tak mungkin bisa masuk jajaran staf. Nggak bakal pakai dasi dong seumur-umur, papar Theo mengenang. Nampaknya BI tanggap pada kegalauan itu dan mengadakan seleksi untuk promosi. Yang lolos akan disekolahkan sejajar dengan universitas. Dari BI Surabaya lulus 4 orang, salah satunya Theo. Sementara dari seluruh Indonesia terjaring 60 orang. Mereka dimasukkan ke Pendidikan Ahli Administrasi dan Keuangan Bank di Jakarta, menjalani pendidikan maraton dari pukul 08.00 - 17.00 setiap hari dengan fasilitas penuh, selama 3 tahun. Gelarnya sejajar akuntan, tapi BI nggak kasih gelar, takut kami keluar. Sempat bekerja di bagian pengawasan BI selama setahun, ia kembali mengikuti seleksi intern guna ditempatkan di London. Dari 40 peserta hanya Theo yang lulus. Di London ia langsung jadi staf termuda pada umur 23 tahun. Kesempatan di sana ia gunakan untuk mengikuti serangkaian pelatihan dan praktek. Belajar valas di Paris, London, Amsterdam, dan Kopenhagen. Mempelajari bank sentral di Denmark dan Belanda, menggeluti cadangan emas di Swis, juga duduk dan bermain di banyak ruang transaksi valas. Waktu itu kepala dealing room Jakarta pindah, jadi saya disiapkan untuk menggantikannya. Saya sadar, untuk jadi dealer harus punya pengalaman dan cakrawala dengan duduk di pusat keuangan dunia. Penempatan dealer di BI sebenarnya bertujuan untuk mengelola cadangan devisa sejumlah AS 6 miliar dengan menempatkannya di posisi yang tepat. Bukan untuk memperdagangkannya. Maka di luar jam kerja, saya main margin trading atas nama pribadi, bukan BI. Setelah 5 tahun bermukim di Inggris, Theo sebenarnya ingin pulang ke tanah air, tetapi pemerintah Inggris mengetahui reputasinya dan memberi izin tinggal tetap. Ia bisa bekerja apa saja. Wah, percaya dirilah saya. Pekerjaan BI yang diidamkan banyak orang nggak terlalu menggiurkan lagi, kata Theo. Maka, ketika benar-benar pulang ke Indonesia ia sekaligus minta izin keluar dari BI untuk masuk ke London School of Economics (LSE). Maksudnya sebagai batu loncatan untuk bekerja di Bank Dunia atau IMF. Tapi keasyikan bermain valas membuatnya malas bersekolah. Jiwa saya player, jadi saya tak jadi masuk LSE meskipun sudah diterima. Saya main valas terus, dan ingin menikmati hasilnya. Saya ingin menikmati hidup bukan sebagai pegawai BI yang bertahun-tahun cuma bisa naik mobil sederhana. Saat main margin trading, pertengahan 1980-an, modal dengkul masih berlaku. Modalnya dipinjami, tapi kalau untung masuk kantung sendiri. Pokoknya main untuk meramaikan. Masa itu tak sulit mereguk untung lantaran pasar gampang diterka. Dolar turun searah. Tapi sejak 1987, peluang meraup keuntungan makin sulit. Selain pemain makin banyak, modal pun mulai diatur. Saat itulah Bank Duta terpuruk karena permainan valas. Soal kesempatan meraup untung memang tak ada yang lebih cepat daripada main valas. Saya masih ingat, hanya dengan mengangkat telepon dari vila di Puncak sambil main gaple dan makan pisang goreng, bisa dapat AS 60.000 semalam. Telepon memang diibaratkan cangkulnya buat cari makan. Juga berbagai perangkat komunikasi. Baik untuk bertransaksi ke seluruh dunia, memantau pasar yang berjalan 24 jam sehari, juga melihat kerugian dan keuntungan uangnya. Tapi hidup saya tak habis di sana. Apa lagi saya harus membagi pengetahuan kepada banyak orang. Kalau menulis dan bikin analisis, saya tak main. Saya meramal dan menghitung, biar orang lain yang dapat keuntungan. Theo tak terikat pada suatu lembaga keuangan. Kalau mau main, ia sendiri yang menentukan. Sejak tahun lalu, ia mendirikan perusahaan jasa konsultasi pasar uang Speed Currency. Bagi yang ingin tahu atau ingin main valas boleh jadi pelanggan. Dengan membayar AS 100bulan, Theo pun memberi analisis dan panduan. Cita-cita saya membuat Speed Currency seperti Bloomberg. Ia besar dan disegani, meski awalnya juga dirintis di garasi, ia menunjuk garasi di rumahnya yang berhalaman luas di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ia mempekerjakan 4 orang yang, selain mengolah analisis, juga bertindak sebagai fund manager. Mereka jago-jago yang tak bisa dianggap remeh, karena lewat tangannya sering terjadi transaksi miliaran dolar, kata Theo bangga. Karena bekerja di rumah, Theo tak terikat pada aturan dan jadwal kerja yang pasti. Ia adalah pegawai bagi dirinya sendiri. Juga pegawai yang mengantar anak-anak ke sekolah, menemani mereka bepergian, bahkan mendampingi saat mereka mau tidur. Theo menganggap, anak-anak lebih memerlukan kebersamaan ketimbang uang. Tak soal ia telah punya vila di Puncak, Jawa Barat, dan hotel di atas tanah 10 ha di Manado. Anak-anak pula yang menghadirkan cerita unik bagi perjalanan hidup Theo. Saat masih di dalam kandungan, kecuali si bungsu Daniel (hampir 2 bulan), mereka berada di tempat yang jauh dari rumah. Dari yang sulung tempatnya paling jauh, sampai si bungsu yang paling dekat. Namun akhirnya semua lahir di Jakarta. Menurut istrinya, Sandra Pingkan Adriana Lolong (38), si sulung Monika (12) berada di dalam kandungan saat mereka di New York. Barulah 2 bulan menjelang melahirkan, saya kembali ke Jakarta, kata Sandra. Begitu pula Abi (9) yang dikandung saat mereka tinggal di London. Keisha (7) anak ketiga, dikandung di Singapura. Sedangkan Dorothea (5) dikandung sewaktu mereka di Manado. Barulah anak ke-5, Daniel, menghabiskan seluruh masa janin hingga lahir di Jakarta. Jumlah anak sampai 5, bagi pasangan Theo dan Sandra juga cerita tersendiri. Theo memang dari keluarga besar, namun Sandra hanya 2 bersaudara. Setelah kelahiran Abi, keduanya ingin ber-KB. Tapi apa mau dikata, kebobolan terus. Selain mengalami beberapa kegagalan, saya pun pernah kehilangan spiral, kata Sandra. Akhirnya, setelah melahirkan Daniel, saya minta disteril. Buat pasangan ini, anak-anak adalah segalanya. Mereka yang terbiasa memanggil Papa Theo adalah rekan sepanjang hidup, sekaligus jadi rem manakala Theo terlalu keasyikan bermain uang. (G. SujayantoA. Heru KustaraMayong S. Laksono)KISAH TRADER PALING SUKSES DI INDONESIA Ini kisah yang saya harapkan menjadi kisah paling menarik sepanjang sejarah perforexan Indonesia. Ini tentang trader yang akan bling sukses w Indonezji. Saya harap begitu. Saya punya harapan sobat-sobat yang terlibat di dalam tulisan ini suatu menjadi trader bling sukses di Indonesia. aamiin. Sebelumnya saya mohon maaf, kepada sobat-sobat yang terlibat dalam tulisan saya ini. Dengan selalu menjaga rahasia prywatność sobota tentunya. Ini akan menjadi pelajaran yang mahal dan sangat berharga. Tetapi sekali lagi saya mendoakan semoga sobat-sobat semua menjadi trader paling sukses di Indonesia. aamiin. Wspomnienie Jiki. mereka ini adalah orang-orang yang pernah menderita. Inilah kisah nyatanya: Di suatu negeri entah berantah. tinggallah beberapa orang trader ada sekitar 8 orang trader z salah satu rumah penduduk negeri itu. Mereka bukan kakak beradik atau keluarga, tetapi zwykły adalah para trader yang sedang bersembunyi inwestor dari kejaran, leasing dan bank kolektora długu. Mereka datang dari berbagai kota. Berkumpul dalam satu rum z denerwującym belakang masing-masing dan memiliki kesamaan: Sedang Bersembunyi .. Apa yang telah dilakukannya sehingga harus bersembunyi Saya tidak mungkin bisa menceritakan satu-persatu karena masing-masing membrana masalahnya sendiri. Mungkin cocoknya di sinetronkan bukan ditulis artikel. Semoga ada produser yang datang pada saya. biar saya tulis naskahnya. Hehehehehe. Namun kesamaan mereka adalah: Mereka orang-orang yang berani mengambil risiko terlalu besar di bisnis forex Kalimat yang membingungkan bagi saya, jika saya dengar dari orang sukses (bukan dari forex), mereka mengatakan: Hanya orang sukses saja yang berani mengambil risiko besar. Tetapi apa yang terjadi di sekeliling kita. yang menimpa mereka para trader forex Mereka berani mengambil risiko terlalu besar, tetapi apakah mereka menjadi sukses dan sangat sukses Ini yang saya renungkan. Apakah kalimat orang sukses: Hanya orang sukses saja yang berani mengambil risiko besar itu haram dipakai for trader forex Jawaban ini berat za saya jawab, dan saya juga tidak suka mengawali polemik. Saya serahkan kepada Anda semua. Lanjut kisah: Hari-hari berlalu, mereka stay dan bertahan. bulan berganti bulan. sampai akhirnya pudar membena kehidupannya masing-masing. Selama berbulan-bulan itu, rumah itu bagai penjara. Yang dibuatnya sendiri. Jika saya datang, saya punk harus ikut-ikutan ngumpet datang diam-diam i kendaraan harus diparkir jauh dari rumah itu. Ini mengenaskan. pikirku. Seperti sarang teroris. Tapi mereka bukan teroris ya Allah. Mereka adalah para korban. mereka korban dari keberanian mengambil risiko yang terlalu besar di forex. Ada juga yang menjadi korban perilaku orang lain. tapi masih bermuara sama: FOREX. Di dalam rumah tersebut banyak penghuni, tapi seperti kuburan. Terlebih jika ada tamu yang tak dikenal datang, cukup ada yang mengintip, tidak kenal. tinggal masuk kamar. Jika dikenal, tapi disebutnya sebagai orang yang bermasalah, juga tinggal masuk kamar. Masih banyak kisah memilukan lainnya di rumah itu, tapi saya gak tega menceritakan ini kepada Anda. Cukuplah selintas kisah ini. toh tujuanku menulis dan mengangkat kisah ini adalah karena HIKMAHNYA. Yang tak ternilai harganya dla menjadi renungan kita bersama yang masih menggeluti bisnis forex ini. Point pentingnya adalah. Forex itu bisnis beresiko, sama seperti bisnis-bisnis lainnya. tetapi forex mampu mempengaruhi seseorang dla mengambil resiko terlalu besar, forex bisa mempengaruhi seseorang dla serakah, forex bis mempengaruhi seseorang dla berbuat nekad, forex bisa mempengaruhi seseorang dla menjadi miskin. forex bisa mempengaruhi seseorang dla menjadi gila. Bagaimana agar tidak bisa dipengaruhi hal-hal negatif semacam itu temukan teknik yang tepat, zarządzanie yang tepat, serta bentuk umysłowy yang kuat sebelum mengambil resiko yang besar dalam dunia forex. rakus boleh saja asalkan teknik, zarządzanie, serta mental kita sudah mumpuni. forex adalah perdagangan kalah 3 langkah, jadi harus difikirkan benar2 bagaimana cara menang 5 langkah do mendapat 1 langkah. dla handlowca sahabat yang tinggal z quotRumah Bermasalahquot kalau masih kuat mental terjun z forek saya ada sarang, jangan main di wilayah major 1, coba major 2 yang gerakannya lebih sedikit santai .. Sungguh blog dan tulisan yang bagus. Salam Fx Trader. 7 tahun menggeluti bisnis ini kerugian 1M sudah terbayar setengahnya. utrata adalah biaya belajar. sukses di bisnis ini memerlukan totalitas. latihan, riset, mengamati, belajar dari kesalahan demi kesalahan. temukan parameter yang paling tepat, insya Allah kita semua akan bisa sukses.

Comments

Popular posts from this blog

Opcje zapasów jpm

Best forex indicators free download

Jak to zrobić, handel walutami online